Dari Lereng Gunung Sumbing

 

Perempuan yang Memetik Daun Teh

 

 

puisi-puisi gerimis sepanjang jalanmu

menimbun semua jejak kaki

dengan segala kata yang melukiskan

apa saja tentang namamu tapi

tak ada satupun metafora mengalir

untuk derai kaki atas lumpur

doamu yang memekat bagi

mimpi-mimpiku. mungkin nanti

langkahmu akan berhenti

mengalir dan tanganmu akan sedikit

gemetar meraba arus usia tapi

apakah demikian dengan baja

di hatimu? telah kau penggal

pucuk-pucuk lena menjadi galih

kayu yang paling keras dalam

dekapan kesabaran hari-harimu. kelak

akan terlahir sebagai mata air

atas kehausan sungai-sungaiku.

 

telah kau surat ceritamu

di kuncup-kuncup daun teh

yang telah kau kibaskan embunnya

di pagi buta saat mimpi-mimpi

masih ranum di belantara

tidurku. subuh adalah saat kebekuan

malam mesti dicairkan

oleh tanganmu yang berombak

dan muara harapan telah terkumpul

dalam keranjang-keranjang

masa depan. mungkin hanya mimpi

tapi kau punya itu.

 

jika pada akhirnya semua

akan didudukkan di neraca

kau telah memberatkan catatan

pahalamu sendiri. meramu sepetik

demi sepetik waktu untuk daun-daun

amal. sampai nanti usia merebut

kekuatanmu, tak ada yang tercecer

sia-sia dari jejakmu yang coba

kutimbun lewat puisi ini. mungkin

punggungmu tak tegak lagi

rukuk sepanjang sisa waktu. mungkin

tanganmu tak seberombak dulu,

yang gulung-gemulung merobek takdir,

lemas mengemas ujung-ujung hari. mungkin

tatapmu telah tak elang lagi

dalam merupa warna senja. mungkin

langkahmu tak sederas sungai

sungai di pegunungan yang menatah

batu-batu. tapi gerimis cintamu

tak meredup bahkan lebat dalam

halaman rumah hatimu

sampai saat senja jatuh

di cakrawala waktumu.

 

Wonosobo, 19 Februari 2010

 

 

Selintas Siang

sebuah sekolah di pegunungan

 

debu terus berlarian dalam relung

angin yang menyamar sebagai bayang

wajahmu anak-anak lugu yang

lahir dari gigir gunung sumbing

masai bagai masa yang entah

terlukis dalam etalase sejarah

kemarin negeri ini.

 

sepertinya ini semacam teka-teki

keabadian hidup berawal dan berakhir

dalam serangkaian ritual doa-doa?

bukankah kau lahir dari doa-doa

yang didengungkan malam-malam?

ah apa yang kita cari anak-anakku

selain menebarkan bibit-bibit doa

dan kelak kau memanennya

dalam waktu yang rahasia?

 

bayang debu doamu atau sebuah

muara yang meskipun jauh

di hilir tapi nyata dalam

kelebatan rahasia Tuhan?

bubungkanlah bersama kelarianmu

dalam masa yang hijau untuk

menerima sinar matahari ini nak!

kelak klorofil-klorofil waktu

akan menemukamu dengan hara hidup ini!

 

dan tetes embunmu biarlah

mengalir dalam mikraj yang agung

bersama sujudmu yang terus

luruh dalam alur-alur waktu rahasia.

 

 

Batursari, 23 Agustus 2007

tengah hari yang meradang.

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.