Dari Lereng Gunung Sumbing
01 Des 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Perempuan yang Memetik Daun Teh
puisi-puisi gerimis sepanjang jalanmu
menimbun semua jejak kaki
dengan segala kata yang melukiskan
apa saja tentang namamu tapi
tak ada satupun metafora mengalir
untuk derai kaki atas lumpur
doamu yang memekat bagi
mimpi-mimpiku. mungkin nanti
langkahmu akan berhenti
mengalir dan tanganmu akan sedikit
gemetar meraba arus usia tapi
apakah demikian dengan baja
di hatimu? telah kau penggal
pucuk-pucuk lena menjadi galih
kayu yang paling keras dalam
dekapan kesabaran hari-harimu. kelak
akan terlahir sebagai mata air
atas kehausan sungai-sungaiku.
telah kau surat ceritamu
di kuncup-kuncup daun teh
yang telah kau kibaskan embunnya
di pagi buta saat mimpi-mimpi
masih ranum di belantara
tidurku. subuh adalah saat kebekuan
malam mesti dicairkan
oleh tanganmu yang berombak
dan muara harapan telah terkumpul
dalam keranjang-keranjang
masa depan. mungkin hanya mimpi
tapi kau punya itu.
jika pada akhirnya semua
akan didudukkan di neraca
kau telah memberatkan catatan
pahalamu sendiri. meramu sepetik
demi sepetik waktu untuk daun-daun
amal. sampai nanti usia merebut
kekuatanmu, tak ada yang tercecer
sia-sia dari jejakmu yang coba
kutimbun lewat puisi ini. mungkin
punggungmu tak tegak lagi
rukuk sepanjang sisa waktu. mungkin
tanganmu tak seberombak dulu,
yang gulung-gemulung merobek takdir,
lemas mengemas ujung-ujung hari. mungkin
tatapmu telah tak elang lagi
dalam merupa warna senja. mungkin
langkahmu tak sederas sungai
sungai di pegunungan yang menatah
batu-batu. tapi gerimis cintamu
tak meredup bahkan lebat dalam
halaman rumah hatimu
sampai saat senja jatuh
di cakrawala waktumu.
Wonosobo, 19 Februari 2010
Selintas Siang
sebuah sekolah di pegunungan
debu terus berlarian dalam relung
angin yang menyamar sebagai bayang
wajahmu anak-anak lugu yang
lahir dari gigir gunung sumbing
masai bagai masa yang entah
terlukis dalam etalase sejarah
kemarin negeri ini.
sepertinya ini semacam teka-teki
keabadian hidup berawal dan berakhir
dalam serangkaian ritual doa-doa?
bukankah kau lahir dari doa-doa
yang didengungkan malam-malam?
ah apa yang kita cari anak-anakku
selain menebarkan bibit-bibit doa
dan kelak kau memanennya
dalam waktu yang rahasia?
bayang debu doamu atau sebuah
muara yang meskipun jauh
di hilir tapi nyata dalam
kelebatan rahasia Tuhan?
bubungkanlah bersama kelarianmu
dalam masa yang hijau untuk
menerima sinar matahari ini nak!
kelak klorofil-klorofil waktu
akan menemukamu dengan hara hidup ini!
dan tetes embunmu biarlah
mengalir dalam mikraj yang agung
bersama sujudmu yang terus
luruh dalam alur-alur waktu rahasia.
Batursari, 23 Agustus 2007
tengah hari yang meradang.