Dari Kumpulan Puisi “Empat Bait Musim”

Kanopi

kutabah-tabahkan dalam lari

hujan ini tapi angin tak pernah

mengajakku bercanda. langit

menggedor-gedor pintu langkahku

dan siang ini menjadi saat

yang paling kuyup dalam lelehan

jalan. cuaca telah berkhianat

pada gunung dan pucat pohon

pinus telah menandai sebuah

risau yang keriput. langkah telah

beranjak pergi tapi pikiranku terjepit

pada daun pintu yang belum kukunci

karena anak kunci, seperti cuaca, entah tersesat

di kembara mana? tapi aku tak bisa

kembali sebab hujan ini. ingin kuketuk pintu

pintu yang lain dalam badai ini tapi

adakah bunyi tersisa? aku tersesat

di sabana kebasahan penyesalan yang lebat.

kanopi jiwa ini seperti daun

yang dibujuk musim untuk tanggal

satu-satu.

Wonosobo, 26 November 2009

Jalan

Gi, sahabatku…

telah kutimbang-timbang tentang

panjang jalan yang kutempuh tapi

pintu rumahku masih saja terus

membuka dan di sana ibuku masih

tersenyum meninabobokan anaknya

dua enam tahun lalu. kini belum sempat

aku tutup pintu itu Gi, saat angin buru-buru

masuk mengatakan bahwa musim

kemarau telah berlalu dan hujan

di halaman depan rumahku berkecipak

oleh kakiku. di pintu tampias mengemas

cemas kepulanganku.

Sukabumi (Alkausar), 14 Juni 2009

Wonosobo

kota tiris dalam massa gerimis,

bangku-bangku taman kuyup membatu.

ada yang pental pada air cokelat kental

akar-akarku yang leta di bukit-bukit hilang.

(kulihat di bawah beringin tua alun-alun kota

bocah rambut gimbal menangisi gimbalnya yang putus dan hilang)

tak ada lagi cucu Kaladete merawat gimbalnya akar-akarku

di bukit-bukit. orang-orang telah melarungnya dalam mimpi buruk

anak cucunya. mereka berharap menuju laut.

kotaku tiris dalam liris bersama cuaca jatuh

kandas di bukit-bukit warna cadas.

larung di sungai-sungai cokelat tua.

1 Januari 2009

Tentang Laut

:kepada ibuku di lereng Gunung Sumbing

di teluk aku ingin memeluk tapi ruang lengang,

hanya himpitan angin dan putik ombak yang gugur

di kelopak pantai. cakap-cakap ini menjadi desau

keberangkatan dari kenangan lalu kini sepi,

sepi dari wajah perempuan yang menitikkan

air matanya dan kini menanti di balik pintu.

penyimpanannya seperti laut yang telah

menyembunyikan warna emas matahari sore

dan rinduku tak menepi karena pantai berkarang.

seekor camar yang merenungi cakrawala.

Itulah aku yang tak letih mengukur jejak kapal

dan jejak matahari di horison cintaku.

kukatakan pada ombak dia bilang gugur.

hanya debur demi larung yang tak terhubung.

ceritaku kini menunggu keberangkatan

ombak dan penantian musim. ingin

kupeluk senyum perempuan di balik pintu

tapi bayangan sendiri tak bertepi.

Palabuhanratu, Juli 2009

2 Komentar (+add yours?)

  1. suko ra
    Mar 01, 2011 @ 10:01:52

    ya..ya..
    puisi yang apik. benarbenar apik..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.