Dari Kumpulan Puisi “Empat Bait Musim”
07 Nov 2010 2 Komentar
Kanopi
kutabah-tabahkan dalam lari
hujan ini tapi angin tak pernah
mengajakku bercanda. langit
menggedor-gedor pintu langkahku
dan siang ini menjadi saat
yang paling kuyup dalam lelehan
jalan. cuaca telah berkhianat
pada gunung dan pucat pohon
pinus telah menandai sebuah
risau yang keriput. langkah telah
beranjak pergi tapi pikiranku terjepit
pada daun pintu yang belum kukunci
karena anak kunci, seperti cuaca, entah tersesat
di kembara mana? tapi aku tak bisa
kembali sebab hujan ini. ingin kuketuk pintu
pintu yang lain dalam badai ini tapi
adakah bunyi tersisa? aku tersesat
di sabana kebasahan penyesalan yang lebat.
kanopi jiwa ini seperti daun
yang dibujuk musim untuk tanggal
satu-satu.
Wonosobo, 26 November 2009
Jalan
Gi, sahabatku…
telah kutimbang-timbang tentang
panjang jalan yang kutempuh tapi
pintu rumahku masih saja terus
membuka dan di sana ibuku masih
tersenyum meninabobokan anaknya
dua enam tahun lalu. kini belum sempat
aku tutup pintu itu Gi, saat angin buru-buru
masuk mengatakan bahwa musim
kemarau telah berlalu dan hujan
di halaman depan rumahku berkecipak
oleh kakiku. di pintu tampias mengemas
cemas kepulanganku.
Sukabumi (Alkausar), 14 Juni 2009
Wonosobo
kota tiris dalam massa gerimis,
bangku-bangku taman kuyup membatu.
ada yang pental pada air cokelat kental
akar-akarku yang leta di bukit-bukit hilang.
(kulihat di bawah beringin tua alun-alun kota
bocah rambut gimbal menangisi gimbalnya yang putus dan hilang)
tak ada lagi cucu Kaladete merawat gimbalnya akar-akarku
di bukit-bukit. orang-orang telah melarungnya dalam mimpi buruk
anak cucunya. mereka berharap menuju laut.
kotaku tiris dalam liris bersama cuaca jatuh
kandas di bukit-bukit warna cadas.
larung di sungai-sungai cokelat tua.
1 Januari 2009
Tentang Laut
:kepada ibuku di lereng Gunung Sumbing
di teluk aku ingin memeluk tapi ruang lengang,
hanya himpitan angin dan putik ombak yang gugur
di kelopak pantai. cakap-cakap ini menjadi desau
keberangkatan dari kenangan lalu kini sepi,
sepi dari wajah perempuan yang menitikkan
air matanya dan kini menanti di balik pintu.
penyimpanannya seperti laut yang telah
menyembunyikan warna emas matahari sore
dan rinduku tak menepi karena pantai berkarang.
seekor camar yang merenungi cakrawala.
Itulah aku yang tak letih mengukur jejak kapal
dan jejak matahari di horison cintaku.
kukatakan pada ombak dia bilang gugur.
hanya debur demi larung yang tak terhubung.
ceritaku kini menunggu keberangkatan
ombak dan penantian musim. ingin
kupeluk senyum perempuan di balik pintu
tapi bayangan sendiri tak bertepi.
Palabuhanratu, Juli 2009
Mar 01, 2011 @ 10:01:52
ya..ya..
puisi yang apik. benarbenar apik..
Mar 07, 2011 @ 13:42:00
Coba berikan kritiknya! Masih banyak kekurangan!