Puisi Puisi
11 Apr 2010 3 Komentar
Empat Bait Musim
Gugur
apa yang kau pikirkan tentang selembar
daun tua yang jatuhnya sangat rahasia
di bawah hutan sana? mungkin hanya
air yang setia mendekapnya menjadikanya
hidup dalam matinya yang abadi. tak ada
yang tahu jika kelak ia terbang mengitari
hutan ini menjadi burung
mengejar-ngejar sunyi
melihat hutan tinggallah nama.
Dingin
tak ada kepunyaan kecuali
akan tanggal satu-satu seperti
musim yang berguguran dan
tak satupun ditandai oleh daun-daun
kering yang berterbangan lalu
berhinggapan di seantero semesta raya ini.
akhir dari perjalanan adalah sebisu
musim ini yang tak pernah bicara
pada matahari apalagi termometer.
setelahnya adalah pengejaan kata-kata
yang telah kita buang seperti
jatuhnya salju!
Semi
setegar batu karang pun
luruh oleh angin dan air?
apalagi yang kita punya
selain keluh dan kesah?
besok mestinya kuncup
kuncup bermekaran.
Panas
pucuk matamu tak kan lagi
mekar tatkala udara tak lagi
menawar rindumu menjadi
sebuah pertemuan yang paling dramatis.
matahari sekarang garang menggertak-gertak
daun agar segera lepas saja
dari ranting kehidupannya.
tak ada penantian
sebab di antara musim ini
tak ada ruang tunggu.
keberangkatan pun tak jelas
alamatnya sebab jalan telah
membunuh banyak manusia.
seperti juga musim.
- Wadaslintang, Agustus 2009
Kenangkan!
sebuah pengakuan akan batin ini pernah aku
kutuki menjadi terminal yang tak ingin
kukunjungi dalam hidup ini. apa yang tersisa
dari keberangkatan yang tandas tanpa bekas?
aku lelah yang menunggu di kursi
tunggu apalagi hanya bersama angin saja.
lambaian kenangan yang terakhir
telah berangkat dalam layu hujan. kini
kursi tunggu ini abadi kesedihan yang
sebenarnya ingin aku bagi pada alamatmu.
tapi peta yang kita bentangkan terlanjur
basah dilanda gerimis paling rentan dari langit.
kuputuskan saja bahwa derai hati ini
adalah abadi milikku.
akhirnya hujan itu menganak sungai dalam
lebat pikiranku. adakah kau tahu bahwa
sebenarnya aku ingin menjembatani kebimbangan
hati ini. sehingga gerimis ini menjadi dawai
yang terus mengingatkan aku akan tubuh ini.
sesuatu yang akan hilang dalam buaian
tanah merah. sebelum akhirnya aku
menyesal aku ingin menyesali.
mengapa aku kini? setelah hujan ini
reda aku ingin melarungkan
kekelamanku ini dalam sungai-sungai kenangan.
akan aku pandang di muara sesuatu
yang lapang menilai tentang jalan-jalan
yang pernah aku lalui. dengan ombak yang tenang …
- Sukabumi, 2008
Legenda Ciliwung
hujan mengibas-ngibaskan ekornya
saat Nabi Nuh tokoh dalam kisah
suci mereka datang menyibak Ciliwung
dan membuang jangkar di sana. orang
orang takjub memandang
dunia lain yang berjalan di atas
kepala mereka yang menyembul
di antara apa saja yang hanyut:
petuah, khotbah, ramalan cuaca,
primbon pranata mangsa, juga air mata.
“naiklah! hulu telah tenggelam.
beribu-ribu tangan dan beribu-ribu
alasan telah menghanyutkan
dengan bah yang besar!”
kata berita dari kapal raksasa itu.
“mama apakah dia benar-benar
Nabi Nuh yang membuat kapal
yang besar itu?” tanya anak
pada ibunya sambil mengayuh kasur.
“bukan, kau telah diracuni dongeng-
dongeng yang tidak pernah menyelamatkan
kita nak! kita bukan di negeri dongengan
ustad-ustadmu di TPQ!
villa kita yang hangat di gununglah
tempat teraman kita nak!” kata ibunya.
seorang anak tergesa-gesa
menutup kisah itu dari kitab sucinya
kala Isya tiba. di luar orang-orang
telah berenang. anak itu masih
berdiri di sana hingga larut
menunggu Nabi Nuh di pintu masjid
datang membawakan selimut tebal
dari bulu domba untuknya.
- Februari 2010 kala musim hujan.
Camar-Camar Palabuhanratu
mereka tidur memeluk langit
beralaskan samudera bertemankan
sebilah kata yang bermakna kesunyian
cakrawala. pertemanannya dengan laut
abadi laksana sauh nelayan tua yang
rindu pada dermaga. percintaannya laut
yang rindu memeluk karang dalam
pasang perbani. aku, camar yang
lupa menghafal biru langit dan laut
- Sukabumi, 25 Juli 2008
Ahmad Sodiqin. Wonosobo, 19 Juni 1983. Alumni Universitas Sebelas Maret Solo pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (2006). Mengajar SMA Insan Cendekia Al Kausar Sukabumi untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (2007-2009). Sekarang mengajar di SMP 8 Wadaslintang Wonosobo untuk mata pelajaran yang sama.
Apr 17, 2010 @ 15:05:48
Ternyata sukabumi banyak menginspirasi karya anda, selamat ya atas peluncuran blognya…..kapan main ke alka?
Apr 18, 2010 @ 07:02:30
Sukabumi memang telah menjadi perjalanan hidupku! Sebenarnya telah lama blog sederhana ini saya buat! Terima kasih atas apresiasinya. Ke Alka insyaallah kalau dapat undangan ….
Jun 19, 2010 @ 10:14:28
puisi empat musim, aku suka semuanya… walau ada beberapa musim yang belum pernah saya rasakan …