Puisi Puisi

Empat Bait Musim

Gugur

apa yang kau pikirkan tentang selembar

daun tua yang jatuhnya sangat rahasia

di bawah hutan sana? mungkin hanya

air yang setia mendekapnya menjadikanya

hidup dalam matinya yang abadi. tak ada

yang tahu jika kelak ia terbang mengitari

hutan ini menjadi burung

mengejar-ngejar sunyi

melihat hutan tinggallah nama.

Dingin

tak ada kepunyaan kecuali

akan tanggal satu-satu seperti

musim yang berguguran dan

tak satupun ditandai oleh daun-daun

kering yang berterbangan lalu

berhinggapan di seantero semesta raya ini.

akhir dari perjalanan adalah sebisu

musim ini yang tak pernah bicara

pada matahari apalagi termometer.

setelahnya adalah pengejaan kata-kata

yang telah kita buang seperti

jatuhnya salju!

Semi

setegar batu karang pun

luruh oleh angin dan air?

apalagi yang kita punya

selain keluh dan kesah?

besok mestinya kuncup

kuncup bermekaran.

Panas

pucuk matamu tak kan lagi

mekar tatkala udara tak lagi

menawar rindumu menjadi

sebuah pertemuan yang paling dramatis.

matahari sekarang garang menggertak-gertak

daun agar segera lepas saja

dari ranting kehidupannya.

tak ada penantian

sebab di antara musim ini

tak ada ruang tunggu.

keberangkatan pun tak jelas

alamatnya sebab jalan telah

membunuh banyak manusia.

seperti juga musim.

  • Wadaslintang, Agustus 2009

Kenangkan!

sebuah pengakuan akan batin ini pernah aku

kutuki menjadi terminal yang tak ingin

kukunjungi dalam hidup ini. apa yang tersisa

dari keberangkatan yang tandas tanpa bekas?

aku lelah yang menunggu di kursi

tunggu apalagi hanya bersama angin saja.

lambaian kenangan yang terakhir

telah berangkat dalam layu hujan. kini

kursi tunggu ini abadi kesedihan yang

sebenarnya ingin aku bagi pada alamatmu.

tapi peta yang kita bentangkan terlanjur

basah dilanda gerimis paling rentan dari langit.

kuputuskan saja bahwa derai hati ini

adalah abadi milikku.

akhirnya hujan itu menganak sungai dalam

lebat pikiranku. adakah kau tahu bahwa

sebenarnya aku ingin menjembatani kebimbangan

hati ini. sehingga gerimis ini menjadi dawai

yang terus mengingatkan aku akan tubuh ini.

sesuatu yang akan hilang dalam buaian

tanah merah. sebelum akhirnya aku

menyesal aku ingin menyesali.

mengapa aku kini? setelah hujan ini

reda aku ingin melarungkan

kekelamanku ini dalam sungai-sungai kenangan.

akan aku pandang di muara sesuatu

yang lapang menilai tentang jalan-jalan

yang pernah aku lalui. dengan ombak yang tenang …

  • Sukabumi, 2008

Legenda Ciliwung

hujan mengibas-ngibaskan ekornya

saat Nabi Nuh tokoh dalam kisah

suci mereka datang menyibak Ciliwung

dan membuang jangkar di sana. orang

orang takjub memandang

dunia lain yang berjalan di atas

kepala mereka yang menyembul

di antara apa saja yang hanyut:

petuah, khotbah, ramalan cuaca,

primbon pranata mangsa, juga air mata.

“naiklah! hulu telah tenggelam.

beribu-ribu tangan dan beribu-ribu

alasan telah menghanyutkan

dengan bah yang besar!”

kata berita dari kapal raksasa itu.

“mama apakah dia benar-benar

Nabi Nuh yang membuat kapal

yang besar itu?” tanya anak

pada ibunya sambil mengayuh kasur.

“bukan, kau telah diracuni dongeng-

dongeng yang tidak pernah menyelamatkan

kita nak! kita bukan di negeri dongengan

ustad-ustadmu di TPQ!

villa kita yang hangat di gununglah

tempat teraman kita nak!” kata ibunya.

seorang anak tergesa-gesa

menutup kisah itu dari kitab sucinya

kala Isya tiba. di luar orang-orang

telah berenang. anak itu masih

berdiri di sana hingga larut

menunggu Nabi Nuh di pintu masjid

datang membawakan selimut tebal

dari bulu domba untuknya.

  • Februari 2010 kala musim hujan.

Camar-Camar Palabuhanratu

mereka tidur memeluk langit

beralaskan samudera bertemankan

sebilah kata yang bermakna kesunyian

cakrawala. pertemanannya dengan laut

abadi laksana sauh nelayan tua yang

rindu pada dermaga. percintaannya laut

yang rindu memeluk karang dalam

pasang perbani. aku, camar yang

lupa menghafal biru langit dan laut

  • Sukabumi, 25 Juli 2008

Ahmad Sodiqin. Wonosobo, 19 Juni 1983. Alumni Universitas Sebelas Maret Solo pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (2006). Mengajar SMA Insan Cendekia Al Kausar Sukabumi untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (2007-2009). Sekarang mengajar di SMP 8 Wadaslintang Wonosobo untuk mata pelajaran yang sama.


3 Komentar (+add yours?)

  1. usep
    Apr 17, 2010 @ 15:05:48

    Ternyata sukabumi banyak menginspirasi karya anda, selamat ya atas peluncuran blognya…..kapan main ke alka?

    Balas

    • ahmadsodiqin
      Apr 18, 2010 @ 07:02:30

      Sukabumi memang telah menjadi perjalanan hidupku! Sebenarnya telah lama blog sederhana ini saya buat! Terima kasih atas apresiasinya. Ke Alka insyaallah kalau dapat undangan ….

      Balas

  2. Andi
    Jun 19, 2010 @ 10:14:28

    puisi empat musim, aku suka semuanya… walau ada beberapa musim yang belum pernah saya rasakan … ;)

    Balas

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.