Dari Lereng Gunung Sumbing
01 Des 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
Perempuan yang Memetik Daun Teh
puisi-puisi gerimis sepanjang jalanmu
menimbun semua jejak kaki
dengan segala kata yang melukiskan
apa saja tentang namamu tapi
tak ada satupun metafora mengalir
untuk derai kaki atas lumpur
doamu yang memekat bagi
mimpi-mimpiku. mungkin nanti
langkahmu akan berhenti
mengalir dan tanganmu akan sedikit
gemetar meraba arus usia tapi
apakah demikian dengan baja
di hatimu? telah kau penggal
pucuk-pucuk lena menjadi galih
kayu yang paling keras dalam
dekapan kesabaran hari-harimu. kelak
akan terlahir sebagai mata air
atas kehausan sungai-sungaiku.
telah kau surat ceritamu
di kuncup-kuncup daun teh
yang telah kau kibaskan embunnya
di pagi buta saat mimpi-mimpi
masih ranum di belantara
tidurku. subuh adalah saat kebekuan
malam mesti dicairkan
oleh tanganmu yang berombak
dan muara harapan telah terkumpul
dalam keranjang-keranjang
masa depan. mungkin hanya mimpi
tapi kau punya itu.
jika pada akhirnya semua
akan didudukkan di neraca
kau telah memberatkan catatan
pahalamu sendiri. meramu sepetik
demi sepetik waktu untuk daun-daun
amal. sampai nanti usia merebut
kekuatanmu, tak ada yang tercecer
sia-sia dari jejakmu yang coba
kutimbun lewat puisi ini. mungkin
punggungmu tak tegak lagi
rukuk sepanjang sisa waktu. mungkin
tanganmu tak seberombak dulu,
yang gulung-gemulung merobek takdir,
lemas mengemas ujung-ujung hari. mungkin
tatapmu telah tak elang lagi
dalam merupa warna senja. mungkin
langkahmu tak sederas sungai
sungai di pegunungan yang menatah
batu-batu. tapi gerimis cintamu
tak meredup bahkan lebat dalam
halaman rumah hatimu
sampai saat senja jatuh
di cakrawala waktumu.
Wonosobo, 19 Februari 2010
Selintas Siang
sebuah sekolah di pegunungan
debu terus berlarian dalam relung
angin yang menyamar sebagai bayang
wajahmu anak-anak lugu yang
lahir dari gigir gunung sumbing
masai bagai masa yang entah
terlukis dalam etalase sejarah
kemarin negeri ini.
sepertinya ini semacam teka-teki
keabadian hidup berawal dan berakhir
dalam serangkaian ritual doa-doa?
bukankah kau lahir dari doa-doa
yang didengungkan malam-malam?
ah apa yang kita cari anak-anakku
selain menebarkan bibit-bibit doa
dan kelak kau memanennya
dalam waktu yang rahasia?
bayang debu doamu atau sebuah
muara yang meskipun jauh
di hilir tapi nyata dalam
kelebatan rahasia Tuhan?
bubungkanlah bersama kelarianmu
dalam masa yang hijau untuk
menerima sinar matahari ini nak!
kelak klorofil-klorofil waktu
akan menemukamu dengan hara hidup ini!
dan tetes embunmu biarlah
mengalir dalam mikraj yang agung
bersama sujudmu yang terus
luruh dalam alur-alur waktu rahasia.
Batursari, 23 Agustus 2007
tengah hari yang meradang.
Puisi Puisi
11 Apr 2010 3 Komentar
Empat Bait Musim
Gugur
apa yang kau pikirkan tentang selembar
daun tua yang jatuhnya sangat rahasia
di bawah hutan sana? mungkin hanya
air yang setia mendekapnya menjadikanya
hidup dalam matinya yang abadi. tak ada
yang tahu jika kelak ia terbang mengitari
hutan ini menjadi burung
mengejar-ngejar sunyi
melihat hutan tinggallah nama.
Dingin
tak ada kepunyaan kecuali
akan tanggal satu-satu seperti
musim yang berguguran dan
tak satupun ditandai oleh daun-daun
kering yang berterbangan lalu
berhinggapan di seantero semesta raya ini.
akhir dari perjalanan adalah sebisu
musim ini yang tak pernah bicara
pada matahari apalagi termometer.
setelahnya adalah pengejaan kata-kata
yang telah kita buang seperti
jatuhnya salju!
Semi
setegar batu karang pun
luruh oleh angin dan air?
apalagi yang kita punya
selain keluh dan kesah?
besok mestinya kuncup
kuncup bermekaran.
Panas
pucuk matamu tak kan lagi
mekar tatkala udara tak lagi
menawar rindumu menjadi
sebuah pertemuan yang paling dramatis.
matahari sekarang garang menggertak-gertak
daun agar segera lepas saja
dari ranting kehidupannya.
tak ada penantian
sebab di antara musim ini
tak ada ruang tunggu.
keberangkatan pun tak jelas
alamatnya sebab jalan telah
membunuh banyak manusia.
seperti juga musim.
- Wadaslintang, Agustus 2009
Kenangkan!
sebuah pengakuan akan batin ini pernah aku
kutuki menjadi terminal yang tak ingin
kukunjungi dalam hidup ini. apa yang tersisa
dari keberangkatan yang tandas tanpa bekas?
aku lelah yang menunggu di kursi
tunggu apalagi hanya bersama angin saja.
lambaian kenangan yang terakhir
telah berangkat dalam layu hujan. kini
kursi tunggu ini abadi kesedihan yang
sebenarnya ingin aku bagi pada alamatmu.
tapi peta yang kita bentangkan terlanjur
basah dilanda gerimis paling rentan dari langit.
kuputuskan saja bahwa derai hati ini
adalah abadi milikku.
akhirnya hujan itu menganak sungai dalam
lebat pikiranku. adakah kau tahu bahwa
sebenarnya aku ingin menjembatani kebimbangan
hati ini. sehingga gerimis ini menjadi dawai
yang terus mengingatkan aku akan tubuh ini.
sesuatu yang akan hilang dalam buaian
tanah merah. sebelum akhirnya aku
menyesal aku ingin menyesali.
mengapa aku kini? setelah hujan ini
reda aku ingin melarungkan
kekelamanku ini dalam sungai-sungai kenangan.
akan aku pandang di muara sesuatu
yang lapang menilai tentang jalan-jalan
yang pernah aku lalui. dengan ombak yang tenang …
- Sukabumi, 2008
Legenda Ciliwung
hujan mengibas-ngibaskan ekornya
saat Nabi Nuh tokoh dalam kisah
suci mereka datang menyibak Ciliwung
dan membuang jangkar di sana. orang
orang takjub memandang
dunia lain yang berjalan di atas
kepala mereka yang menyembul
di antara apa saja yang hanyut:
petuah, khotbah, ramalan cuaca,
primbon pranata mangsa, juga air mata.
“naiklah! hulu telah tenggelam.
beribu-ribu tangan dan beribu-ribu
alasan telah menghanyutkan
dengan bah yang besar!”
kata berita dari kapal raksasa itu.
“mama apakah dia benar-benar
Nabi Nuh yang membuat kapal
yang besar itu?” tanya anak
pada ibunya sambil mengayuh kasur.
“bukan, kau telah diracuni dongeng-
dongeng yang tidak pernah menyelamatkan
kita nak! kita bukan di negeri dongengan
ustad-ustadmu di TPQ!
villa kita yang hangat di gununglah
tempat teraman kita nak!” kata ibunya.
seorang anak tergesa-gesa
menutup kisah itu dari kitab sucinya
kala Isya tiba. di luar orang-orang
telah berenang. anak itu masih
berdiri di sana hingga larut
menunggu Nabi Nuh di pintu masjid
datang membawakan selimut tebal
dari bulu domba untuknya.
- Februari 2010 kala musim hujan.
Camar-Camar Palabuhanratu
mereka tidur memeluk langit
beralaskan samudera bertemankan
sebilah kata yang bermakna kesunyian
cakrawala. pertemanannya dengan laut
abadi laksana sauh nelayan tua yang
rindu pada dermaga. percintaannya laut
yang rindu memeluk karang dalam
pasang perbani. aku, camar yang
lupa menghafal biru langit dan laut
- Sukabumi, 25 Juli 2008
Ahmad Sodiqin. Wonosobo, 19 Juni 1983. Alumni Universitas Sebelas Maret Solo pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (2006). Mengajar SMA Insan Cendekia Al Kausar Sukabumi untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia (2007-2009). Sekarang mengajar di SMP 8 Wadaslintang Wonosobo untuk mata pelajaran yang sama.
13 Jun 2009 4 Komentar
AKU, ISTRIKU, DAN SEEKOR HEWAN
Cerpen: Ahmad Sodiqin
Menakjubkan sekali. Pada malam yang belum tertebas subuh dari jendela kamar terlihat rumpun bunga dahlia di kebun bergoyang-goyang. Anehnya suasana hening dan angin berhenti. Hanya rumpun bunga dahlia itu yang bergoyang. Apakah angin lebih memilih dahlia saja pada malam itu? Mungkin karena bunga itu cantik. Aku tak terlalau memperhatikannya lagi. Yang aku ingat malam itu berada pada saat yang paling puncak. Dan di sampingku, istriku masih terlelap tanpa sedikitpun merasa terganggu oleh perbuatanku. Dia tersenyum, manis sekali. Padaku? Atau pada mimpi?
Ah, istriku. Mengapa perempuan yang ada disampingku kini istriku? Tentu saja karena ia perempuan. Apakah itu saja alasannya? Tentu karena ia juga cantik, selain juga menyayangi aku. Dan pada saat tidurpun ia begitu menakjubkan, pipinya seperti kunang-kunang yang bercahaya lembut. Aku ingin menciumnya, tapi urung. Aku ingin ia tidur saja malam itu dan malam biarlah menjadi milikku yang paling kelam. Tiba-tiba saja aku seperti mendengar tangis pecah memporakporandakan malam yang paling akhir, dari seorang bayi. Dan tangis itu seperti merambat halus dalam hatiku, menanyakan kebapakan yang belum pernah tertangisi oleh suara sendu seperti itu. Apakah istriku mendengarnya?
Di luar kulihat lagi bunga-bunga dahlia mekar dengan warna yang merah, putih, biru, ungu, dan merah jambu. Bunga yang berumpun-rumpun! Bunga itu ditanam oleh istriku. Dia memang suka sekali bunga dahlia. Dia sering memandangi lama-lama, seperti ingin memastikan bahwa bunga itu indah.
Di kamar lain aku dengar suara batuk ayahku. Suara tua yang masih ia miliki, melengking-lengking pada malam itu. Mungkin ia terbangun dan duduk sambil mengeluarkan sesuatu dari mulutnya ke ember. Ia sendiri dan ibuku telah lama mangkat.
Aku bernjak. Tirai jendela itu aku tarik lagi. Saat itu aku seperti melihat dari rumpun dahlia putih yang tadi bergoyang-goyang sesuatu melintas. Tirai itu aku tarik lagi dan dari kaca jendela aku perhatikan dengan teliti. Ada gerakan-gerakan dari rumpun dahlia biru seperti tadi tapi saat ini aku tak akan mengatakan angin terlanjur mencitai dahlia biru. Bukan angin! Ajaib sekali, ada seekor hewan di sana bergerak-gerak dalam keremangan. Seperti kucing tetapi bukan kucing. Lebih kecil dari kucing. Aku yakin bukan kucing. Rasanya kucing tidak suka tempat-tempat serperti di rumpun dahlia yang dibawahnya diberi pupuk. Hewan itu hitam abu-abu. Aku yakin seperti itu karena sinar dari jendela tak mengganggunya sedikitpun. Yang paling aneh hewan itu menyaruk-nyaruk tanah di bawah rumpun dahlia sehingga bergoyang-goyang. Hewan itu yang sepanjang gigir sampai ekor ada bulu putihnya hingga menyerupai garis, menyaruk-menyaruk tanah itu dengan moncongnya. Dan memang ajaib sekali. Sebelum itu aku belum pernah melihat hewan itu. Aku tak tahu hewan apa itu. Menurutku itu hewan yang lincah dan lucu. Malam itu ia tak tahu bahwa aku terus mengamatinya dari jendela. Ia terus berpindah dari rumpun ke rumpun lainnya. Aku teringat istriku barangkali ia akan suka melihat hewan kecil, lucu dan aneh itu ada di kebun di bawah bunga-bunga kesayangannya. Dan semestinya hewan itu ada di hutan sana sebab rumah kami terbilang ada di tengah desa yang besar.
”Sayang, bangun sayang!” kataku sambil menepuk-nepuk pipinya yang penuh itu. ”Sayang, di kebun ada hewan lucu dan lincah di bawah bunga-bunga dahlia!” istriku terjaga dan mengucek-ucek kedua matanya yang rapat dan belum mengerti apa yang aku katakan.
”Di luar ada hewan lucu dan lincah bermain-main di bawah bunga dahlia!” kataku.
”Apakah kau telah membeli hewan lucu? Untuk siapa?”
”Kau baru bermimpi? Ini kenyataan, sayang! Lihatlah di luar jendela sana ada hewan lucu dan lincah yang dari punggungnya sampai ekor bergaris putih!”
”Hewan bergaris putih di luar?” katanya tak percaya, ”boneka bergaris putih di punggung itu ada di laur?” lanjutnya.
”Bukan boneka, ini hewan! Ayolah nanti keburu pergi dan kesempatan untuk melihat hewan itu hilang! Ini ajaib sekali!”
Kubuka lagi tirai jedela untuk istriku. Aku mengarahkan pandanganku ke segala arah ke rumpun bunga dahlia yang tadi bergerak-gerak dan hewan itu terlihat di sana. Tapi hewan itu tak terlihat lagi di sana. Sepi saja. Tak ada lagi goyangan bunga dahlia.
”Mana? Kau bermimpi kan?”
”Tidak sayang, aku yakin tadi melihatnya di bawah bunga dahlia biru itu!”
”Buktinya tidak ada! Mana?”
”Tadi di situ, aku tidak bohong! Aku telah lama bangun.”
”Sudahalah jangan kau pikirkan lagi boneka itu.”
”Ini benar-benar hewan, bukan boneka sayang!”
”Mungkin kau berilusi Mas! Mas teringat boneka yang tempo hari tak jadi kita beli di pasar itu kan? Iya kan mas?”
”Ah, kalau kau tak percaya besok barangkali akan muncul lagi! Akan kubangunkan kau agar kau tak mengatakan aku bermimpi.”
Tapi kulihat mengapa ia terlanjur tidak suka dengan keadaan malam itu. Marahkah ia padaku yang telah megusik boneka itu? Bukan, bukan maksuduku untuk mengungkit kejadian boneka itu di pasar tempo hari.
”Apakah kau tidak akan berwudhu?” kataku sambil tetap memandangai jendela, barangkali hewan itu datang lagi atau sekedar melintas untuk berapa lama. Istriku tidak menyahut. Aku menoleh, dan kulihat istriku telah lelap lagi. Atau pura-pura lelap? Ah, perempuan, mengapa ia jadi begitu perasa?
Dari kamar lain kudengar suara ayahku melengking-melengking panjang. Batuk yang tua dan parau. Apa hewan itu pergi karena mendengar suara ayahku? Atau ia telah mencuri dengar percakapanku dengan istriku? Sayang sekali istriku tak melihatnya dan tak memercayaiku. Padahal hewan itu sungguh lucu seperti boneka hewan yang batal kami beli. Bulunya lembut dan hangat. Ya, tempo hari aku hendak membelinya dan istriku dengan nada marah bersikeras menentangku. Dan entah mengapa boneka itu menjadi bahan perdebatan kami dan itu pula yang muncul di kepala istriku saat kukatakan ada hewan bergaris putih sepanjang punggung sampai ekornya.
”Untuk apa mas boneka itu?”
”Untuk anak kita.”
”Tidak usah Mas. Kalau Mas memaksa lebih baik aku pergi. Telah lama Mas aku juga ingin…. tapi kita belum memiliki….” katanya sambil terisak. Aku tak menyangka jika akhirnya demikian.
”Tapi tak apa kan? Aku yakin suatu saat kelak kita pasti akan punya banyak dan lucu-lucu seperti kamu dan aku.”
”Mas aku tahu karena ini sebagai bukti Mas adalah laki-laki dan ingin dipanggil bapak. Apakah Mas tak tahu bahwa aku juga ingin jadi perempuan seutuhnya?” kulihat air matanya pasang dan tsunami hatinya bergejolak.
”Jadi tak ada yang salah kan, bahwa kita sama-sama ingin….” kataku dan kutarik lengan istriku, barangkali dengan begitu aku bisa memberikan satu ketenangan. Atau aku yang mencari ketenangan itu? Ah, hidup memang untuk saling memberi dan menerima.
”Tapi boneka pilihan mas itu membebani aku!” air matanya menderas. Wajahnya begitu sayu. Itukah wujud perempuan yang sesungguhnya? Begitu nyata dihadapanku. Apakah ada kaitan antara perempuan dan air mata?
”Kita pasti punya, bahkan selusin seperti yang selalu kita minta.”
”Kau kecewa padaku?” aku semakin sesak dengan pertanyaannya. Tapi aku ingin ia berbesar hati.
”Siapa bilang? Aku tidak pernah bilang begitu tetapi aku selalu bilang kau adalah segalanya bagiku. Jadi lupakanalah boneka itu!”
Istriku memang menjadi orang yang sensitif sekali pada usia pernikahan kami yang memasuki tahun kelima tanpa sekalipun terdengar tangis seorang bayi di rumah kami yang sepi. Apapun hal yang berkaitan dengan anak kecil ia begitu perasa. Dulu, pernah istriku keguguran pada tahun pertama pernikahan kami. Setelah itu rahimnya selalu kosong. Istriku menjadi sangat khawatir kalau aku kecewa menikah dengannya. Kalau-kalau aku kecewa dan pergi meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain. Tapi siapa yang akan meninggalkan perempuan berhati lembut itu?
”Kau akan meninggalkanku?”
”Tidak! Aku di sini. Peganglah, aku disini!”
****
Malam berikutnya seperti malam-malam yang telah lalu, aku bangun lagi. Pada malam menjelang subuh itu betapa aku ingin sekali bangun. Barangkali segala usaha telah kami lakukan tapi dalam doa kami mungkin belum diaminkan. Ingin aku berdoa saja setelah segalanya putus. Tiba-tiba saat matakku terasa masih berat aku ingat hewan lucu dan lincah di pekarangan rumah di rumpun bunga dahlia kemarin malam. Pasti ada di sana lagi. Dan saat itu aku singkap tirai jendela. Aku amati dari ujung ke unjung deretan rumpun bunga dahlia di laur sana. Benar, aku melihatnya lagi malam itu. Ia sedang menyaruk-nyaruk di rumpun dahlia di luar sana. Bunga dahlia di atasnya terlihat bergerak-gerak digoyang-goyangkan hewan itu di pangkalnya.
Aku mengucek mataku memastikan bahwa yang aku lihat tidak salah. Benar hewan itu hitam dan sepanjang pungunggnya sampai ekor bergaris putih. Aku amati dengan seksama. Aku yakin hewan itu adalah hewan yang kemarin malam menyaruk-nyaruk di tempat itu juga. Aku yakin kali ini adalah saat yang tepat untuk membangunkan istriku agar dia melihat apa yang aku katakan. Agar ia percaya apa yang aku ceritakan. Aku berharap kali ini istriku akan percaya padaku.
”Nina sayang, hewan itu ada di bawah bunga dahlia putih! Ayo lihatlah, kau pasti percaya padaku. Itu bukan boneka di pasar itu Nina!”
Istriku bangun seperti orang bingung. Beberapa kali mengucek-ngucek matanya. Tapi sama sekali ia tak ingin bergerak untuk melihat apa yang aku katakan. Aneh sekali ia memandang dengan pandangan yang jauh dan tak beranjak untuk bangkit ke jendela.
”Kau tak apa-apa?” tanyaku sambil kuangkat dagunya. Aku melihat mengapa di matanya ada air mengalir bening dan hening?
”Mengapa kau menangis?”
”Boneka itu….Mengapa Mas selalu ingin boneka itu?”
”Nina, Nina, aku tak memikirkan boneka bergaris putih itu lagi. Ini sungguhan bahwa hewan itu bergaris putih dan di luar sedang menyaruk-nyaruk bunga dahlia kesuakanmu! Aku tak bohong!”
”Mas, mengapa Mas belum melupakan boneka itu?”
”Ini bukan boneka, ini asli hewan. Lihatlah dia sedang menyaruk-nyaruk tanah di bawah bunga dahlia.”
”Mengapa boneka itu kemari?”
”Nina, aku harus bilang apa? Ini hewan bukan boneka!”
Istriku tetap duduk terpaku dengan perasaannya. Ia menganggap apa yang aku katakan adalah boneka. Aku menjadi serba salah. Di luar suasana hening tetapi dari kamar lain suara batuk ayahku melengking. Ayahku yang telah begitu rapuh diraup usia hingga kini pada usianya yang senja belum pernah baginya terdengar tangsi anakku.
”Nina, apakah kamu merasa aku telah memberimu beban meski aku tak pernah menuntut yang orang tak pernah bisa lakukan?” kataku pelan. Nina tak menyahut.
Lama sekali terdiam, baru kemudian ia bertanya, ” Mengapa kita tak punya anak?”
”Belum. Pasti, entah kapan, kita akan punya! Kau percaya padaku?” ia terdiam lagi dan berat. Ada awan yang menggelayut dalam bola matanya yang mendung.
”Kalau kau tak percaya lagi, siapa yang akan percaya?” kataku pelan, ”maka lihatlah, di rumpun dahlia itu ia begitu cantik, lincah, dan lucu mengendus-endus tanah gembur di bawah rumpun bunga dahliamu!”
Istriku perlahan beranjak tertarik dengan apa yang aku katakan. Aku membukakan tirai jendela yang tadi telah kututup. Aku mencari-cari hewan itu di rumpun-rumpun dahlia. Aku melihatnya ia tak ada di sana lagi. Hatiku kecut. Aku berusaha meyakinkan istriku bahwa hewan itu tadi ada dia sana. Tapi tangisnya yang lirih terlanjur berderai malam itu.
***
”Beberapa malam ini kau ribut dengan istrimu.” kata ayahku dengan penuh selidik.
”Tidak.” kataku berusaha menghindar. Meski aku tak yakin dengan jawaban ini aku akan aman dari perkiraan ayahku. Aku yakin dia tahu.
”Tidak salah. Bagaimana tidak, sebab telingaku meski sudah tua masih bisa mendengar!”
Akhirnya keyakinanku benar meski aku masih enggan untuk mengatakan ya.
”Beberapa malam ini aku melihat hewan seperti kucing, bulunya hitam ada garis putih di pungggung dari kepala sampai ekornya, besarnya lebih kecil dari kucing tapi lebih besar dari tupai. Hewan itu menyaruk-nyaruk tanah di bawah rumpun dahlia. Tapi Nina selalu tak percaya kalau ada hewan malam di kebun bunga miliknya. Hewan itu selalu pergi ketika ia ingin memastikan melihatnya. Ia selalu menuduhku bermimpi melihat boneka di kebun. Dan selalu kubilang: Ini hewan bukan boneka. Tapi ia selalu menangis.”
”Hmm, hewan itu sendiri atau ada lainnya?”
”Yang kulihat hanya satu saja.”
”Ternyata kau masih melihat hewan itu. Telah lama aku tak melihat hewan itu lagi. Orang sini dulu menamakan penyuru karena mencari makan menyaruk-nyaruk dengan moncongnya. Tapi mengapa istrimu menangis?”
Mengapa ya? Aku harus menajwab apa atas desakan ayahku yang ringkih itu. Aku tak bisa menyembunyikan apapun di depan ayahku sejak kecil. Tapi mestikah ini aku ceritakan? Barangkali ayahku telah tahu dan hanya ingin memastikan apa sebenarnya. Dan tentu saja rumah kami yang sepi itu terus bercerita tentang kesendirianku dan istriku. Aku percaya, dalam ketuaan seseorang biasanya ada kemudahan untuk mengetahui apa-apa yang tak pernah bisa terucap. Lama aku tak menjawab.
”Ya sudah kalau kamu tak mau menjawab. Mudah-mudahan tak lama lagi kamu akan mendengar tangis anakmu.” katanya sambil beranjak dari tempat duduknya. Perkataan itu seperti telah menyihir aku dalam duduk dan terhenyak. Betapa lelaki tua itu terus memperhatikanku sampai usianya yang setinggi itu.
***
Malam-malam selanjutnya seperti menjadi milikku seutuhya, kelam dan sepinya, gigit dan giglnya. Pada bagian yang paling larut aku masih selalu penasaran dengan seekor hewan di kebun di bawah bunga dahlia. Aku melihatnya dan tetap mengatakan ia cantik terlepas apa jenis kelaminnya. Ia lincah dan lucu, gesit berpindah dari satu rumpun ke rumpun yang lain. Seperti kanak-kanak yang baru bisa berjalan dan karenanya senang berjalan. Tapi kadang aku tak melihatnya di rumpun dahlia itu sampai dua hari. Mungkin makanan yang ia cari tidak ia temukan lagi lalu pergi. Ia perlu menunggu lagi agar cacing dan serangga tanah kembali ada di bawah rumpun bunga dahlia. Dan hingga kini aku masih selalu ingin hewan itu ada dan hadir untukku di seberang jendela.
Ingin aku bangunkan istriku saat aku bangun pada sepertiga malam itu, saat hewan itu datang mengendap-endap di bawah rumpun bunga dahlia. Tapi aku selalu urungkan hal itu. Aku takut kalau istriku tidak percaya dan bahkan yang menjadikan aku lebih sedih lagi jika ia menangis ketika menuduhku melihat boneka hidup. Mengapa selalu telah pergi saat istriku mulai percaya padaku untuk melihat hewan itu?
Dan rupanya boneka itu atau hewan yang selalu gagal dilihatnya itu, akhir-akhir ini menjadi mimpi buruk istriku. Hingga suatu malam ketika hewan itu tengah menyaruk-nyaruk tanah di bawah bunga dahlia, istriku bangun dan menjerit. Ia linglung seperti orang yang hilang ingatan.
”Boneka itu mas! Boneka itu mengejar-ngejarku! Mana dia akan kubunuh saja!” katanya geram.
”Nina, tenang Nina, kau baru mimpi buruk!”
”Tidak Mas hewan itu telah membawa pergi anak kita!”
”Apa? Kita punya anak?”
”Mas hewan itu jahat sekali, ia selalu mengejarku! Tolong Mas ia mengejarku!”
”Tenang Nina, ia tak ada. Tenang Nina, aku di sini!” sambil kudekap dan berusaha aku tidurkan lagi. Aku bujuk dia untuk tidur.
”Tidurlah, aku di sini. Hewan itu tidak ada!”
”Kejar dia Mas! Aku takut!”
”Tidak. Tidak ada dia. Dia sudah pergi kemarin-kemarin.”
”Mas pasti melihatnya. Bunuh dia Mas. Ia jahat sekali.”
”Tidak Nina, kalaupun ada dia tidak jahat, dia lucu, lincah, dan cantik! Hewan itu mencintai dahlia sepertimu. Tenang saja, dia tidak pernah jahat.”
”Tapi…”
”Tidak, anak kita ada di rahimmu. Coba kau rasakan! Ia ada di dalam bukan? Tapi sekarang kau harus tidur! Kau lelah, keningmu agak panas.”
Setelah aku bujuk, istrku tidur algi. Sesaat ia terlelap, kulihat hewan itu di luar sudah tidak ada lagi. Ia pergi meninggalkan bunga dahlia itu dalam gelap. Malam yang masih merayap sepi itu sempurna. Istriku kini menjadi kerepotan bagiku dengan mimpi-mimpi anehnya.
”Kau tak usah berpikir macam-macam. Bukankah selalu penuh cintaku?” begitu selalu kukatakan.
”Tapi apakah kau punya Nina yang lain?”
”Ssst,” sambil kututupkan jariku di bibirnya, ”Kau mencintai aku kan?”
”Kau mencintai aku?” istriku balik bertanya. Seperti ingin sekali ia memastikan aku sepenuhnya miliknya.
”Ya, dan kau?”
Ia mengangguk.
”Aku percaya padamu dan kau harus percaya padaku!”
”Lupakan boneka itu dan hewan itu. Jangan memikirkan apa yang kau tak disuruh memikirkannya!”
***
Menakjubkan sekali mamang! Hari-hari berikutnya istriku semakin bisa mendengar kata-kataku. Dan kulihat ia semakin senang. Ia masih menyukai bunga dahlia. Seperti dulu, merawatnya dan menunggu ia mekar. Selalu aku jujur padanya, ia pun jujur padaku. Tapi satu hal yang aku tak pernah jujur adalah untuk menjawab pertanyaannya: Apakah ada hewan bergaris putih di rumpun dahlia miliknya?
Istriku tidak lagi didatangi mimpi buruk lagi. Ini kuketahui karena ia tak pernah merasakan ketakutan lagi dan bangun tiba-tiba dari tidurnya saat malam-malam yang larut. Bahkan ia beberapa kali menanyakan hewan itu tapi aku terus menjawab tidak ada. Ia tidur pulas dan mendengkur.
Sampai pada suatu malam menginjak usia keenam pernikahan kami, aku bangun dan tertegun sendiri melihat istriku tertidur lelap dengan sesuatu telah menyangkut di perutnya, menggelembung. Aku jadi teringat ikan gondok yang sering aku tangkap ketika waktu kecil dulu. Seperti itulah. Tapi mengapa kusamakan perut istriku dengan ikan gondok? Betapa berat ia menaggung semuanya. Kelak akan lahir sebagai laki-laki berhidung tinggi yang kukira mirip aku.
Malam itu aku bangun, menata lagi doa-doa dan ayat suci. Surat Luqman, Surat Yusuf, dan Surat Maryam (kalau-kalau anakku perempuan) kubacakan. Entah sudah berapa kali. Dan kulihat dalam tidur itu istriku seperti tersenyum padaku.
Aku masih ragu meskpun istriku sering menanyakannya, apakah ia percaya bahwa ada hewan aneh di luar sana sedang bermain-main di bawah bunga dahlia sambil mencari makan. Dalam hal ini aku memang telah berbohong.
Oh, anakku dengarlah Luqman tengah berwasiat pada anak tercintanya!
***
Sore hari ketika aku pulang bekerja, istriku tengah memperhatikan rumpun-rumpun dahlia yang tengah bermunculan bunga-bunganya. Kemudian ia datang kepadaku dengan terburu-buru.
”Mas aku melihat hewan itu!”
”Hewan yang mana?”
”Hewan itu mirip kucing, berbulu hitam dan sepanjang kepala sampai ekornya ada bulu putihnya yang membentuk garis. Lucu sekali! Tadi siang anak-anak telah menangkapnya dari tempat persembunyiannya di pojok pekarangan rumah kita. Ia tampak ketakutan sekali saat berada di dalam kandang kawat itu! Oh kasihan sekali!”
”Mengapa kau tak mencegah anak-anak itu?”
”Kalau hewan itu milik kita tentu aku mencegah mereka!”
”Tapi setidaknya kau punya alasan karena hewan itu bersarang di pekarangan kita maka itu milik kita!”
”Tapi Mas Anak-anak itu tiba-tiba telah menangkapnya dan aku hanya melihat sebentar sebelum mereka membawanya pergi.”
Apa yang akan terjadi dengan hewan yang telah menemani malam-malamku yang sulit dipercaya itu? Malam-malam yang sunyi, sepi, dan hampa. Dan dengan hewan itu seperti ada kelucuan dengan tingkahnya di rumpun-rumpun dahlia yang ditanam istriku itu. Sulit sekali barangkali untuk dipercaya tapi hewan itu telah mengantar malam-malamku dan mengisinya dengan keindahan tersendiri. Tiba-tiba aku ingat sesuatu.
”Tapi kau tidak tidur siang dan kau tidak sedang bermimpi kan?” tanyaku antusias kepada istriku. Dan aneh, saat itu aku berharap istriku bermimpi saja.
”Tidak Mas, benar, aku tidak bohong! Aku tidak sedang menceritakan mimpi! Anak-anak itu kegirangan bisa menangkap hewan itu!”
Dan aku tetap ingin bahwa cerita itu adalah mimpi istriku.
***
Pada malam yang terujung tangis pecah mengoyak tidurku. Aku terbangun karenanya. Tangis itu, betapa bukan tangis yang biasanya. Dan malam yang tadinya kosong itu kini penuh sesak di rongga dada.
”Cup, cup, sayang jangan rewel nanti ibu marah! Kalau marah adik dicubit!”
Entah telah berapa kali ia telah memberikan kerepotan, tapi inilah betapa aku menjadi seorang laki-laki sebenarnya. Anakku, laki-laki, hidungnya tinggi. Menurut subjetifitasku ia seperti aku tapi bibirnya seperti bibir istriku. Apakah ia bisa cerewet seperti ibunya juga? Sayang sekali, istriku tak pernah tahu jika buah hati kami terlahir laki-laki dengan selamat.
Beberapa saat kemudian tangis kecil itu mereda. Setelah itu jadi sepi kembali. Hening. Dari kamar lain tak terdengar lagi suara batuk ayahku yang tua dan rapuh itu. Ia belum sempat melihat dan mendengar aku dipanggil ayah. Di sebelahku tidur bantal dingin, dingin, dan beku. Kusingkap tirai dan di luar kulihat bunga-bunga dahlia bermekaran tapi di bawahnya tak lagi kutemukan hewan lucu, lincah, dan aneh itu. Anakku mungkin akan terus bertanya kalau kelak aku bercerita bahwa pernah ada hewan lucu dan aneh di bawah rumpun dahlia yang sulit dipercaya itu.
Malam itu terasa lebih sedikit menekan dan rinai.
Wonosobo-Sukabumi, 2007-2008.
Sebuah puisi untuk hidupku:
Kenangkan!
Sebuah pengakuan akan batin ini pernah aku kutuki menjadi
terminal yang tak ingin kukunjungi dalam hidup ini. Apa yang tersisa dari
keberangkatan yang tandas tanpa bekas? Aku lelah yang menunggu
di kursi tunggu apalagi hanya bersama angin saja. Lambaian kenangan
yang terakhir telah berangkat dalam layu hujan. Kini kursi tunggu ini
abadi kesedihan yang sebenarnya ingin aku bagi pada alamatmu. Tapi peta
yang kita bentangkan terlanjur basah dilanda gerimis paling rentan
dari langit. Jadi kuputuskan saja bahwa derai hati ini adalah abadi milikku.
Akhirnya hujan itu menganak sungai dalam lebat pikiranku. Adakah kau
tahu bahwa sebenarnya aku ingin menjembatani kebimbangan hatiku. Sehingga
gerimis ini menjadi dawai yang terus mengingatkan aku akan tubuh ini. Sesuatu
yang akan hilang dalam buaian tanah merah. Sebelum akhirnya aku menyesal
aku ingin menyesali. Mengapa aku kini? Setelah hujan ini reda aku ingin
melarungkan kekelamanku ini dalam sungai-sungai kenangan. Akan aku
labuhkan di muara sesuatu yang lapang menilai tentang jalan-jalan
yang pernah aku lalui. Dengan ombak yang lapang …
Sukabumi, 2008

Ahmad Sodiqin, S.Pd
Ahmad Sodiqin, lahir di Wonosobo, 19 Juni 1983. Menyelesaikan studi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta pada tahun Juni 2006. Saat ini mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA Insan Cendekia Al Kausar Parungkuda Sukabumi. Alamat rumah Ngadisalam Rt 2 Rw 3 Sapuran Wonosobo Jawa Tengah 56373. Alamat tinggal SMA Insan Cendekia Al Kausar Parungkuda Sukabumi Jawa Barat. Kontak 085227952365.